Menjadi Wirausahawan Bidang IT di Indonesia
Written by Ekananta
ahaan adalah sebuah tema yang cukup menarik untuk dibicarakan dan coba ditekuni oleh beberapa orang karena menjanjikan sebuah kesuksesan karir dan finansial bagi yang berhasil menjalaninya. Di Indonesia, pembicaraan mengenai entrepreneurship semakin sering terdengar dalam beberapa tahun terakhir ini antara lain dipicu oleh suksesnya penjualan buku
Di samping itu, dunia Teknologi Informasi (IT) adalah sebuah dunia
usaha dan teknologi yang paling banyak menghasilkan enterpreneur yang
sukses baik secara bisnis maupun keuangan. Nama-nama seperti
Hewlet-Packard, Bill Gates, Lerry Elison, Steve Jobs, dan Michael Dell
merupakan nama-nama pendiri perusahaan di bidang Teknologi Informasi,
dan merupakan entrepreneur murni karena mereka memulai usaha yang baru
sama sekali dan di usia yang cukup muda.
Melihat kondisi inilah maka tidak heran kalau banyak sekali
enterpreneur yang ingin mendirikan usaha dalam bidang IT, bahkan di era
dot-com, hampir semua entrepreneur berusaha mendirikan perusahaan
dot-com. Seiring dengan berlalunya era dot-com dan dengan jatuhnya
banyak perusahaan dot-com, tetap tidak mengurangi semangat para
entrepreneur muda untuk mencoba peruntungan mereka dalam dunia IT ini.
Dalam tulisan ini, penulis ingin menyoroti prospek entrepreneurship
di bidang IT di negara Indonesia berdasarkan atas pengamatan dan
pengalaman yang pernah dijalani penulis dalam membangun dan menjalankan
sebuah perusahaan strart-up di bidang IT. Walaupun usaha yang
dilakukan belum pantas untuk disebut sukses, tetapi penulis ingin
berbagi beberapa pengalaman yang pernah dialami yang mungkin berguna
bagi perkembangan jiwa dan semangat entrepreneurship di Indonesia.
Membangun usaha dalam bisnis IT
Dunia IT merupakan sebuah dunia yang sangat menjanjikan bagi para
entrepreneur muda karena sifatnya yang sangat terbuka bagi siapa saja
yang berminat memasukinya, bahkan untuk menggambarkan betapa terbukanya
bidang ini dinyatakan oleh pernyataan seorang aktor dalam sebuah film
fiksi tentang perusahaan IT yang berjudul “Anti Trust” mengatakan bahwa “Every student who works on their garage is potentianly become a competitor in this business…”
Setiap mahasiswa yang bekerja dari sebuah garasi di rumahnya untuk
membuat perangkat lunak IT berpotensi untuk menjadi pesaing bagi
perusahaan yang telah beroperasi terlebih dahulu. Seperti juga sebuah
bisnis pada umumnya, jika gampang memasukinya maka gampang pula untuk
terlempar keluar dari persaingan, oleh sebab itu pemahaman dan
pemilihan dalam membangun sebuah bisnis, khususnya dalam bidang IT
sangat menentukan sukses tidaknya usaha tersebut dijalankan.
Walaupun banyak sekali bidang bisnis IT, tetapi pada umumnya bidang
usaha yang sering dimasuki oleh seorang pebisnis baru adalah:
- Perusahaan pengembangan perangkat lunak aplikasi (software house).
- Konsultan Implementasi Teknologi Informasi baik itu implementasi hardware maupun implementasi software.
- Distributor dari produk-produk IT, baik hardware ataupun software.
- Training dan pendidikan bidang IT.
Dari keempat bidang ini, muncul berbagai varians dari bisnis IT yang
biasanya merupakan bentuk spesialisasi dari keempat bidang usaha
tersebut. Untuk sukses dalam bisnis dalam bidang ini faktor yang paling
berpengaruh adalah ketepatan memasuki pasar (time-to-market) dan juga
kualitas sebuah produk atau solusi yang dimiliki. Terlambat memasuki
pasar berarti akan kehilangan kesempatan menjadi market leader,
sedangkan terlalu awal masuk pasar akan dibebani biaya besar untuk
melakukan pendidikan pasar. Faktor yang kedua yaitu kualitas dari
produk atau solusi yang akan menjamin kesinambungan perusahaan dalam
bisnis ini. Kualitas yang jelek akan menyebabkan hilangnya
kepercayaan dari pelanggan, walaupun time-to-market nya sudah tepat.
Walaupun pilihan bisnis sudah dilakukan dan juga time-to-market
sudah dipilih dengan baik, masih terdapat beberapa syarat yang perlu
diperhatikan untuk dapat menjamin suksesnya usaha yang dibangun.
Syarat-syarat tersebut meliputi:
- Melakukan pilihan terhadap jenis usaha yang paling dikuasai oleh si entrepreneur baik dalam bidang teknologi ataupun dalam bidang pasar dan pelanggan yang membutuhkan market tersebut.
- Melakukan pillihan pada jenis usaha yang mempunyai prospek pasar yang akan berkembang di masa mendatang. Memasuki usaha yang sudah ada hanya akan menambah ketat persaingan yang pada akhirnya akan mengurangi margin keuntungan usaha.
Untuk menjadi seorang entrepreneur, apalagi entrepreneur muda dalam
bidang IT, semangat saja belumlah cukup. Diperlukan berbagai
keterampilan dan kemampuan dari sang entrepreneur untuk dapat sukses
memasuki bidang tersebut. Beberapa kemampuan utama yang harus dimiliki
oleh seorang Enterpreneur dalam bidang IT adalah:
- Kemampuan dalam bidang Penjualan (Salesmanship). Kemampuan ini merupakan kemampuan utama yang harus dimiliki oleh seorang entrepreneur untuk membujuk calon pelanggan dalam menggunakan produk dan solusi yang dimiliki. Kegagalan dalam melakukan kegiatan penjualan maka perusahaan akan mati dan gagal untuk bertumbuh.
- Kemampuan dalam bidang teknis yg cukup baik mengenai produk atau solusi yang ditawarkan. Kemampuan ini akan memberikan jaminan bahwa si entrepreneur mengetahui dengan pasti produk atau solusi yang diberikan dan mampu menjaga kualitas dari produknya untuk kepuasan pelanggan.
- Pemahaman dalam bidang keuangan perusahaan (Accounting, Financial Report, Cash-flow management, dan lain-lain). Kemampuan dalam bidang ini sangat diperlukan untuk dapat melakukan perencanaan dan pengendalian operasi perusahaan. Kegagalan dalam bidang ini akan menjadikan perusahaan mengalami kesulitan keuangan yang berakibat dari gagalnya operasi perusahaan walaupun pada saat yang sama perusahaan memiliki pesanan yang cukup besar.
- Kemampuan dalam bidang Human-Relationship adalah kemampuan yang tidak kalah pentingnya untuk dikuasai oleh seorang entrepreneur. Bidang bisnis IT sangat didominasi oleh manusia baik pembangun solusi ataupun pengguna, bahkan dalam dunia implementasi aplikasi perangkat lunak terdapat sebuah pendapat tak tertulis yang menyatakan bahwa faktor sukses tidaknya sebuah implementasi aplikasi perangkat lunak 20% ditentukan oleh produknya sedangkan 80% lebih ditentukan oleh manusianya yang meliputi programmer, konsultan, manajer proyek, dan juga pengguna akhir. Hal ini menjadi indikator sangat kuat bahwa faktor Human-Relationship sangat berpengaruh dalam kesuksesan entrepreneur dalam bidang IT.
Lingkungan Usaha di Indonesia
Sebuah perusahaan ibaratnya sebuah bibit tanaman yang disebarkan di
permukaan tanah. Tumbuh tidaknya sebuah bibit selain ditentukan oleh
kualitas bibit itu sendiri juga ditentukan oleh lingkungan tempat bibit
tersebut berada. Dalam melakukan kegiatan sebagai entrepreneur bidang
IT di Indonesia, lingkungan dan kondisi usaha di Indonesia sangatlah
menentukan sukses tidaknya perusahaan yang baru dibangun oleh seorang
entrepreneur.
Secara umum, lingkungan dan kondisi usaha di Indonesia masih belum
mampu mendukung seorang entrepreneur untuk dengan mudah mendirikan dan
menjalankan perusahaan sendiri khususnya usaha dalam bidang IT.
Beberapa kondisi ekonomi dan dunia usaha Indonesia yang tidak kondusif
seperti:
- Belum adanya regulasi khusus yang mendukung kegiatan perusahaan start-up seperti tidak adanya insentif pajak dari pemerintah. Di Indonesia, semua perusahaan baik perusahaan kecil atau besar mengikuti peraturan yang sama. Hal ini memang seringkali dirasakan memberatkan bagi perusahaan start-up yang tentunya terbatas dalam bidang operasi dan pendanaannya.
- Belum adanya dukungan dari dunia komunitas keuangan Indonesia seperti belum adanya kredit dari perbankan untuk operasi perusahaan dengan bunga dan persyaratan yang memadai. Hampir semua bank mensyaratkan agunan (kolateral) dalam bentuk bangunan atau deposito untuk setiap usulan pendanaan yang dipastikan sangat sulit dilakukan oleh sebuah perusahaan start-up. Bahkan dalam lingkungan entrepreneurship sering dikenal sebuah pameo yang mengatakan perbankan hanya meminjamkan uang kepada perusahaan yang tidak membutuhkan pendanaan, sedangkan perusahaan yang membutuhkan pendanaan sangat sulit dalam mengakses fasilitas keuangan yang ada.
- Masih lemahnya perlindungan dan penghargaan dalam bidang patent yang berakibat masih kurangnya entrepreneur Indonesia yang menekuni pengembangan perangkat lunak aplikasi, karena tidak ada jaminan bahwa aplikasi mereka tidak digandakan secara illegal.
- Belum adanya semangat untuk mendukung dunia wirausaha dari perusahaan pemerintah di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari peraturan pembayaran yang dilakukan oleh perusahaan negara atau BUMN dilakukan minimal 30 hari setelah semua dokumen disetujui. Persyaratan ini berlaku bagi perusahaan besar dan juga perusahaan kecil yang berarti bahwa perusahaan kecil atau baru memberikan pinjaman selama setidaknya 30 hari kepada perusahaan negara atau BUMN tersebut. Hal ini tentunya sangat memberatkan perusahaan start-up.
Itulah kondisi dan lingkungan dunia usaha di Indonesia yang menurut
pandangan penulis sampai saat ini belum kondusif untuk mendukung
semangat kewirausahaan (entrepreneurship) di Indonesia. Sebagai
perbandingan, di Canada terdapat sebuah badan yang disebut IRAP (Industrial Research Assistance Programme) yang merupakan bagian atau program dari National Research Council. Misi
dari IRAP ini adalah membantu industri kecil dan menengah dalam
mengembangkan kemampuannya di bidang teknologi dan inovasi. IRAP
memberikan konsultasi pada usaha bisnis baru tentang potensi, kelemahan
dari bisnis tersebut, kompetitor, dan pakar-pakar di Canada yang dapat
dihubungi untuk melakukan konsultasi teknologi, dan hal-hal lain yang
sangat berguna bagi perusahaan yang baru berkembang. Semua jasa
konsultasi tersebut dapat diperoleh dengan biaya yang sangat
terjangkau. Di samping itu, Canada juga memiliki sebuah pasar modal
yang dikhususkan bagi perusahaan start-up yang sebagian besar merupakan
perusahaan IT.
Kondisi di Canada ini merupakan kondisi ideal yang seharusnya
diciptakan di Indonesia untuk dapat mendukung semangat dan tumbuhnya
jiwa-jiwa entrepreneurship di kalangan muda di Indonesia khususnya
dalam bidang IT, yang pada akhirnya mampu mendorong pertumbuhan
perekonomian Indonesia.
Penutup
Dunia entrepreneurship merupakan dunia yang cukup menantang terutama
bagi mereka yang membutuhkan tantangan pekerjaan lebih berat
dibandingkan hanya sebagai karyawan sebuah perusahaan. Dunia ini juga
menjanjikan imbalan berupa kesuksesan karir dan finansial bagi yang
berhasil menjalaninya dan secara umum entrepreneur juga memberikan
kontribusi bagi perekonomian negara Indonesia dalam bentuk tersedianya
lapangan kerja baru dan adanya perusahaan pembayar pajak baru.
Salah satu bidang usaha yang banyak menghasilkan entrepreneur muda
sukses adalah bidang IT. Bidang ini merupakan bidang yang paling
terbuka untuk entrepreneur tetapi juga merupakan bidang yang paling
ketat persaingannya. Kemudahan untuk memasuki bidang IT ini hampir sama
dengan kemudahan terlempar keluar dari bidang ini karena persaingan
usaha, sehingga kemampuan untuk memilih usaha yang tepat serta memiliki
keterampilan yang tepat sangat diperlukan oleh setiap entrepreneur
yang akan memasuki bidang usaha IT.
Hal lain yang perlu diperhatikan oleh seorang entrepreneur adalah
kondisi lingkungan usaha tempat perusahaan itu didirikan. Lingkungan
usaha yang kondusif ibarat tanah subur yang akan mendorong tumbuh
suburnya bibit-bibit perusahan baru hasil karya dari jiwa dan semangat
entrepreneurship yang dipupuk terus-menerus.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar